“Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” (QS. Al-Anfal: 46)
Ketika kita memandang suatu objek dari sisi yang berbeda, maka pendapat kita akan berbeda. Begitu pula dalam mengkaji nash agama. Lalu mana pandangan yang benar?
Ibnu Rusydi merupakan orang pertama yang memperkenalkan tentang dua kebenaran atau dua wahyu: wahyu filosofis dan wahyu keagamaan, yang keduanya akan bertemu dalam analisis akhir. Dengan memperhatikan karakter bahasa dalam kitab suci, harus dibedakan pengertian literal dan pengertian alegoris. Jika ada ayat dalam Alqur'an yang terlihat bertentangan dengan filsafat, dapat diduga bahwa ayat itu memiliki pengertian selain makna literalnya. Juga makna yang lebih dalam dan murni yang harus kita cari dengan cara takwil.
Untuk itu, Ibnu Rusydi membagi manusia ke dalam tiga tingkatan:
Yang pertama dan terbesar adalah manusia yang mengembangkan kesalehan dan keimanannya terhadap dogma agama dan mendengarkan perkataan pengkhutbah. Mereka lebih mudah menerima pemahaman dengan cara khutbah. Ini adalah kelas kaun ortodox yang tidak terpelajar (unsophisticated orthodox).
Kelas kedua berisi orang-orang yang memahami agama sebagian berdasarkan atas penalaran tetapi dengan penerimaan yang tidak kritis terhadap premis-premis logika. Ini adalah kelas para teolog.
Ketiga adalah kelas sebagian kecil manusia, berisi orang-orang yang memahami agama secara rasional. Keyakinan mereka didasarkan atas bukti-bukti yang disimpulkan dari premis-premis yang telah teruji dan kokoh. Ini adalah para filsuf tempat pemahaman keagamaan mencapai perkembangan tertinggi.
Pandangan bahwa level interpretasi terhadap ajaran agama sesuai dengan level intelektual masyarakat yang menunjukkan ketajaman visi Ibnu Rusydi ini, ditolak oleh kalangan teolog dengan menuduhnya sebagai orang yang sombong. Namun Ibnu Rusyd hanya ingin mengatakan secara jujur pandangannya bahwa kebenaran yang sama dapat dipresentasikan dalam bentuk yang beragam.
Kitab suci yang diturunkan Tuhan untuk semua lapisan manusia menggunakan beberapa macam pembuktian sebagai tingkat keilmuan manusia. Namun, masing-masing mencapai tingkat kebenaran yang sesuai dengannya dan yang dibutuhkan oleh keselamatannya. Menurut Ibnu Rusydi, ini justru memperlihatkan kebijaksanaan Tuhan bahwa di dalam Alqur'an, Ia telah menunjukkan ajaran-ajaranNya kepada tiap-tiap kelompok menurut kadar pemahaman mereka masing-masing. Ibnu Rusydi berulangkali menyatakan bahwa orang awam (kelompok pertama) harus mengambil pernyataan kitab suci menurut arti literalnya. Mereka dilarang melakukan takwil. Adalah wajib bagi orang kebanyakan untuk tetap dalam makna literal. Untuk mengejar makna yang benar adalah tugas orang-orang yang terpelajar.
Ibnu Rusydi percaya bahwa filsafat harus bersesuaian dengan agama. Namun filsafat yang mentah mungkin akan memalingkan manusia pada atheisme, tetapi penelaahan yang mendalam terhadap filsafat akan membuat manusia memiliki pemahaman yang lebih baik tentang agama.
Diringkas dari salah satu bab pada Buku IBNU RUSYD oleh Abuhasan Asy'ari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar