Selasa, 23 Juni 2015

Melirik Ibnu Rusydi (2)

 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.Al-Baqarah:164)



Ibnu Rusydi merupakan pendiri pemikiran merdeka yang pengaruhnya sangat terasa di Eropa. Beliau sangat mengagumi logika Aristoteles dan mencurahkan segala tenaganya untuk mempelajari karya Aristoteles. Karena komentar-komentar yang dibuatnya itu maka Ibnu Rusydi disebut sebagai Al-Syarih (komentator atau pengulas).

Namun beberapa doktrin utama filsafat Ibnu Rusydi yang membuatnya dicap sebagai murtad diantaranya yang berkaitan dengan keabadian dunia, sifat pengetahuan Tuhan dan kekekalan jiwa manusia dan kebangkitannya.

Terhadap doktrin keabadian dunia, dia tidak menolak prinsip penciptaan (creation), tetapi hanya menawarkan satu penjelasan yang berbeda dari penjelasan para teolog. Ibnu Rusydi memang mengakui bahwa dunia itu abadi, tetapi pada saat yang sama membuat pembedaan yang sangat penting antara keabadian Tuhan dengan keabadian dunia.

Ada dua macam keabadian: keabadian dengan sebab dan keabadian tanpa sebab. Dunia bersifat abadi karena adanya satu agen kreatif  yang membuatnya abadi. Sementara Tuhan abadi tanpa sebab. Lebih dahulunya Tuhan atas manusia tidak terkait dengan waktu. Keberadaan Tuhan tidak ada kaitannya dengan waktu karena Dia ada dalam keabadian yang tidak bisa dihitung dengan skala waktu. lebih dahulunya Tuhan atas dunia ada dalam keberadaan-Nya sebagai sebab yang darinya muncul semua keabadian.

Bagi Ibnu Rusydi, penciptaan adalah proses perubahan dari waktu ke waktu. Menurut pandangan itu, kekuatan kreatif terus menerus dalam dunia, menggerakkannya dan menjaganya.

Adapun al-Ghazali, tidak menerima kausalitas dengan dua alasan utama. Pertama, hukum kausalitas bertentangan dengan kekuasaan mutlak Tuhan atas dunia. Kedua, korelasi yang dinyatakan sebagai hukum sebab akibat tidak ditopang oleh pengalaman dan logika. Pengalaman indra hanya memberi pengetahuan tentang tentetan kejadian dan tidak ada alasan apapun untuk mengatakan bahwa rangkaian temporal suatu kejadian menunjukkan proses sebab-akibat.

Pernyataan al-Ghazali ini dapat disejajarkan denganpemikiran filsuf David Hume, bahwa sejauh pengetahuan hanya disandarkan pada persepsi indrawi, maka hukum sebab akibat harus ditolak karena hukum tersebut semata-mata diturunkan dari persepsi indrawi. Demikian, apabila pandangan mata tidak memberikan informasi apapun kecuali rentetan kejadian, maka dari mana hukum sebab-akibat disimpulkan?

Al-Ghazali menolak hukum kausalitas karena semuanya terjadi berdasarkan takdir Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, maka runtutan kejadian yang selama ini dianggap sebagai sebab-akibat bisa tidak terjadi, sebagaimana dalam kejadian-kejadian luar biasa, atau yang biasa disebut mukjizat.

Ibnu Rusydi menolak alasan al-Ghazali dengan menyatakan bahwa tujuan al-Ghazali memutlakkan kekuasaan Tuhan dengan cara menghapus hukum sebab-akibat merupakan hal yang kontraproduktif. Penolakan hukum sebab-akibat akan menghancurkan seluruh basis untuk mengarahkan seluruh proses kejadian di alam kepada Tuhan. Al-Ghazali secara tidak sadar telah menghancurkan satu-satunya dasar logika yang diatasnya kekuasaan Tuhan terhadap alam semesta bersandar.

Penyangkalan hukum sebab-akibat itu membahayakan baik bagi filsafat, ilmu maupun teologi. Jika sesuatu terjadi secara kebetulan dan tergantung pada keputusan Tuhan yang tidak dapat diduga, maka tidak ada pola rasional yang dapat kita amati dalam ciptaan. Ini juga berarti menghancurkan konsep Tuhan sebagai pencipta alam dan pengatur yang Maha Bijaksana.

Dari sudut ini maka tidak ada lagi jalan untuk membuktikan eksistensi Tuhan dari sudut pandang keindahan dan keteraturan yang kita saksikan dalam dunia ini atau untuk menolak argumen kaum materialis yang menunjuk semua kejadian di dunia ini kepada kekuatan-kekuatan kebetulan yang buta. Tesis ini membahayakan, baik bagi filsafat maupun Alqur'an yang telah menyatakan dengan tegas dunia sebagai karya Tuhan yang sempurna.

Perang dialektik antara para teolog dengan kaum filsuf betul-betul mengancam filsafat dalam dunia islam dan membawa ke gerbang kebangkrutannya sejak serangan al-Ghazali melalui buku Tahafut al-Falasifah. Oleh karena itu, penyelamatan filsafat hanya mungkin dicapai jika bisa dibuktikan bahwa tidak ada pertentangan yang substansial antara filsafat dengan agama. Ibnu Rusydi sendiri melakukan upaya dengan kekuatan visi luar biasa dalam buku Tahafut at-Tahafut.

Diringkas dari buku berjudul IBNU RUSYD oleh Abuhasan Asy'ari.

1 komentar:

  1. iya, aku gurunya... log in ya, sudah kudaftarin! pasang CBOX ya: http://www.giftasblog.co.vu/2015/05/pasang-cbox-di-blog.html

    BalasHapus