Senin, 20 Juli 2015

Filosofi Makan

MAKAN adalah hal biasa dan kita tentu sudah sangat akrab dengan kegiatan ini. Tanpa perlu diajarkan pun, sejak terlahir menjadi seorang bayi kita sangat paham, bahwa kita butuh makan. Namun karena sudah biasa, kegiatan makan sering tak lagi penting dijadikan perhatian, sehingga banyak orang melakukan aktifitas ini secara serampangan. Makan sering hanya dianggap sebagai sarana agar merasa nyaman dan tidak lapar. Makan sering dijadikan aktifitas hura-hura dalam acara-acara besar, menjadi kegiatan iseng-iseng ketika sedang melakukan aktifitas lain, bahkan sering pula menjadi aktifitas pelarian ketika sedang bosan.


Pada dasarnya, makan merupakan aktifitas untuk memberikan zat-zat nutrisi bagi tubuh agar dapat menjalani aktifitas kehidupan. Tubuh kita merupakan sistem tercanggih yang terdiri dari satuan terkecil yang disebut sel. Merujuk kata-kata Dr Husen A Bajry dalam bukunya Be Your Own Doctor, ibarat sebuah kota besar, setiap sel memiliki ratusan sampai ribuan generator listrik, bahan bakar, jaringan komunikasi, sistem transportasi, sistem keamanan, bahkan manajemen sampah pun diperhatikan dan terkelola dengan baik.
Sel memiliki sistem pertahanan keamanan dengan sistem komando pusat pemerintahan yang sangat hebat, yang dilengkapi sistem sensor yang serba otomatis. Ibarat sebuah pabrik biokimia mutakhir yang menghasilkan aneka ragam produk metabolisme, untuk menghasilkan produk jadi, harus ada bahan baku. Dan kualitas produk sangat ditentukan oleh kualitas bahan bakunya. Maka makan dengan kualitas yang baik akan menghasilkan kualitas sel terbaik.
Sebagai manusia yang beriman kepada Allah, tubuh dengan sistem tercanggih ini menjadi sebuah amanah agar kita mempersembahkan diri kita sebaik mungkin. Tubuh kita yang terdiri dari trilliunan sel terbentuk dari apa yang kita makan. Bahan makanan yang dimakan itu akan menyusun tubuh kita yang terdiri dari sel-sel untuk membentuk sistem-sistem, termasuk sistem hormon yang dapat mempengaruhi perilaku kita. Maka tidak salah jika ada istilah “kita adalah apa yang kita makan”.
Memperhatikan kegiatan makan, menjadi begitu penting karena akan memberi pengaruh besar terhadap pembentukan kualitas fisik dan kepribadian kita dalam rangka mempersembahkan kehidupan kepada Allah. Kita bisa melihat banyaknya penyakit yang muncul disebabkan oleh aktifitas makan yang salah. Baik itu penyakit fisik individual maupun penyakit-penyakit mental sosial. Karena itu, sesungguhnya dalam Alquran telah ada beberapa tuntunan dasar mengenai makan yang benar yaitu: makanlah makanan yang halal dan baik (QS. Al-Maidah: 88), dan janganlah makan secara berlebihan (QS. Al-A’raf: 31).
 Makanan yang halal
Orang-orang yang beriman pasti akan selalu berusaha mendapatkan makanan yang halal, baik zatnya maupun caranya. Allah telah menetapkan zat/bahan apa saja yang halal untuk dimakan. Allah maha tau apa-apa yang terkandung dalam suatu bahan sehingga Ia mengharamkan sesuatu itu untuk dimakan. Bisa jadi unsur yang terkandung dalam bahan makanan yang diharamkan Allah itu dapat merusak keseimbangan metabolisme pembentukan hormon tertentu yang akan berpengaruh buruk pada kesehatan fisik atau mental manusia sehingga dapat menimbulkan emosi dan perilaku negatif pada manusia.
Memperoleh makanan dengan cara yang tidak halal, juga akan memberi mudharat yang besar bagi kita. Ketika makanan diperoleh dengan cara-cara yang menyimpang, akan terjadi guncangan tersembunyi dalam diri kita. Dan guncangan itu akan mengakibatkan hormon ketakutan meningkat sehingga mengganggu keseimbangan hormon lainnya. Setiap unsur dalam sel kita menjadi chaos, yang pada gilirannya akan mengacaukan sistem bio-psikologis. Jiwa-jiwa kita menjadi sulit untuk mencapai ketenangan.

Hal ini akan menimbulkan kekacauan quantum biologis seseorang yang akan berinvestasi pada timbulnya emosi-emosi negatif seperti ketakutan, kegelisahan dan rasa amarah. Sehingga makan makanan haram ini akan menjadi cikal-bakal kejahatan dan penyakit-penyakit sosial yang akan menumbuhkan perilaku buruk dan merusak baik bagi dirinya, maupun bagi keluarganya di dunia ini maupun di akhirat nanti. Rasulullah saw bersabda: “Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih utama baginya”.
Makanan yang baik adalah makanan yang mengandung unsur gizi dan serat yang cukup untuk menunjang metabolisme tubuh. Zat-zat gizi tersebut berupa karbohidrat, protein, lemak vitamin, mineral dan air. Sedangkan serat merupakan bahan yang tidak dapat dicerna secara enzimatik oleh sistem pencernaan namun sangat diperlukan untuk menunjang proses pencernaan pada manusia.
Allah telah menciptakan berbagai jenis sayur dan buah yang berlimpah dengan beragam warna dan rasa yang tidak semata-mata untuk keindahan, namun itu semua diciptakan dengan beragam fungsi dan kandungan nutrisi yang beragam manfaat. Banyak kita yang makan hanya dengan mengikuti selera dan kenyang. Kita harus ingat bahwa tujuan utama kita makan adalah untuk memberi asupan nutrisi yang lengkap dengan gizi seimbang. Seperti kata pepatah, kalau kita sayang tubuh jangan manjakan lidah.
Selama ini banyak beredar makanan instan yang kaya zat aditif yang hanya enak di lidah, namun miskin nutrisi. Semakin banyak makanan seperti itu dikonsumsi, maka tubuh kita akan semakin cepat aus dan rusak. Berbagai bentuk penyakit kanker ternyata sangat berkaitan erat dengan makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Makanlah dengan mengonsumsi sebagian besar bersumber dari tumbuh-tumbuhan, seperti sayur, buah dan biji-bijian, ditambah sedikit dari sumber hewani yang diproses secara alami. Ikan merupakan sumber protein hewani yang terbaik.
 Jangan makan berlebihan
Jika kita makan berlebihan maka dibutuhkan banyak energi untuk mencerna makanan. Tubuh kita menghabiskan banyak waktu dan energi ekstra untuk mengolah semua makanan. Kita akan merasa lelah dan lesu setelah banyak makan karena organ pencernaan membutuhkan oksigen dan nutrisi lebih dari biasanya untuk mencerna makanan yang besar.
Masalah lain dengan makan terlalu berlebihan adalah bahwa tubuh kita mungkin tidak dapat mencerna semua makanan tersebut. Apa yang terjadi pada tubuh jika tidak bisa mencerna makanan? Perlahan tubuh kita akan menyerap sisa-sisa makanan yang membusuk dan tentu saja dapat menyebabkan penyakit. Masalah-masalah kesehatan akan muncul. Sakit jantung, hipertensi, diabetes atau stroke merupakan sebagian kecil contohnya.
Imam Ja’far As-Shadiq dalam buku The Lantern of Path mengungkapkan: “Makan sedikit itu lebih baik dalam setiap kesempatan dan untuk semua orang, sebab hal itu dapat menyehatkan seseorang secara lahiriah maupun batiniah. Tak ada yang berbahaya bagi hati orang yang beriman dari pada menikmati makanan terlalu banyak, sebab hal itu akan menimbulkan dua akibat: kekerasan hati dan bangkitnya nafsu. Rasa lapar adalah laksana bumbu bagi orang-orang beriman, sarana penguat untuk jiwa, makanan bagi hati, dan penunjang kesehatan badan.”

Karena itu, marilah kita kembali pada aktifitas makan yang suci dengan menghargai kecanggihan tubuh kita sebagai amanah, sehingga kita selalu memberinya yang terbaik dengan cara-cara yang santun sesuai tuntunan Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Makanlah setelah lapar dan berhentilah sebelum kenyang!”

(pernah dimuat di koran Serambi Indonesia pada 19 maret 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar